puisi seorang sahabat

dahulu, mentari…

senyummu hangatkan hatiku…

tawamu menambah warna hidupku…

 

tiada hari untuk tak melihatmu tersenyum…

tiada hari untuk tak melihat tawamu…

bahkan, tiada hari untukmu menghentikan keduanya…

 

tapi kini, mentari…

di mana senyummu?

di mana tawamu?

di mana?

 

yang ku lihat kini…

hanyalah senyummu yang kau buat…

hanyalah tawamu yang kau paksa…

 

apa yang terjadi, kawan?

mengapa senyummu telah hilang?

yang tergantikan dengan wajah murungmu…

mengapa tawamu telah hilang?

tergantikan oleh tangismu yang tak berhenti…

 

kenapa sobat?

kenapa kau buat senyummu disaat kau sedih?

kenapa kau paksakan tawamu saat kau tengah merana?

tak maukah engkau berbagi kisah denganku?

 

tersenyumlah, teman..

tertawalah..

lupakan kesedihanmu saat ini…

 

janganlah engkau buat senyummu di tengah kesedihanmu…

janganlah engkau paksakantawamu di tengah tangismu…

jangan, sobat…

 

kembalilah seperti dulu, teman…

tersenyum dan tertawa dengan tulus…

melupakan segala duka dan laramu…

 

tak ingin kau kulihat kembali bersedih…

tak ingin kau kulihat kembali menangis…

kuingin engkau tetap ceria.. untuk selamanya…

 

“puisi itu, dipersembahkan oleh seorang gadis tuna netra yang bernama Rachel dan bersahabat dengan seorang anak lelaki yang mengalami down syndrome berupa keautisan. anak lelaki ini bernama Max. mereka telah bersahabat selama sembilan tahun dan terputus saat mereka berumur 12 tahun karena Max harus pindah keluar kota selama beberapa waktu.

 

pada umur 20 tahun, tanpa sengaja, Rachel yang telah menerima donor mata dan bisa melihat, kembali dan bertemu dengan Max. keduanya banyak bertukar cerita. Max yang hampir sembuh dari autisnya lebih banyak diam. senyum yang ia tampakan, selalu senyum yang ia buat-buat. begitu pula dengan tawanya yang ia paksakan. Rachel yang bingung, hanya bertanya, “Max, ada apa denganmu? mengapa engkau bertingkah aneh dan terus diam? kalau kau ada masalah, mengapa kau tak menceritakannya saja padaku?”.

 

Max tak menjawab sama sekali dan hanya bisa menggeleng. “tidak.. tidak apa-apa.. jangan khawatirkan aku, Rachel…” kata Max. Rachel menghela napas. “ya.. baiklah jika kau tak mau mengutarakannya…”.

 

Rachel langsung beranjak pergi. di rumah, Rachel langsung menumpahkan perasaannya pada secarik kertas yang ia rangkai menjadi sebuah puisi.

 

beberapa hari kemudian, Rachel dan Max kembali bertemu. Rachel tak berkata apapun dan menyerahkan puisi yang ia buat. Max segera membacanya tanpa berkata apapun. tapi sesaat kemudian, Max menyeka air matanya dan berkata, “maafkan aku Rachel… tapi sebenarnya.. aku..”.

 

kali ini, Rachel tak lagi lari dari hadapan Max. “tak apa kalau kau tak mau menceritakan masalahmu padaku.. aku pun juga takkan memaksa, Max.. tapi aku lihat, kau ingin sekali menangis.. kemari.. menangislah sepuasmu bila kau mau.. dan.. kemari.. kau butuh pelukan aku rasa…” Rachel tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya.

 

sejurus kemudian, Max langsung ¬†menghambur ke pelukan Rachel dan menangis sejadi-jadinya. pemuda ini menceritakan masalahnya. “ayahku meninggal dua tahun yang lalu, Rachel.. dan ibu kabur dari rumah tanpa ada surat sedikitpun… dan.. aku masih ada lima orang adik yang tak mengerti cara mengurusnya.. aku bingung, Rachel.. haruskah aku mengakhiri hidupku??”.

 

Rachel kembali menampilkan senyum hangatnya. “tenanglah, Max… tenang.. aku akan membantumu kapanpun kau membutuhkanku..” hibur Rachel. Max menyeka air matanya dan tersenyum. “terima kasih, Rachel.. terima kasih.. kau betul-betul sahabat sejatiku…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s