homeschooling di Jepang

Tahu Homeschooling? Yups. Homeschooling adalah sekolah di rumah. Tak perlu pergi ke sekolah untuk belajar. Tinggal duduk manis di depan meja dan sang guru akan datang sendiri pada kita.

Home schooling memang sudah tersebar ke seluruh belahan bumi, termasuk Jepang. Tapi sayang, home schooling ini masih kurang didukung oleh pemerintah Jepang. Karena selain para pakar pendidikan di Jepang mengatakan sulitnya anak-anak belajar diluar system sekolah, juga “ejekan” para tetangga yang menganggap adanya anak yang tidak pergi ke sekolah adalah aneh.

Setsuko Miyai, seorang professor ilmu humaniora di universitas Toyo Gakuen menulis dalam buku yang ia susun pada tahun 2007 lalu yang berjudul “diantara Indivindu dan Negara”, menuliskan bahwa pendidikan di rumah atau homeschooling diawali oleh gerakan antibudaya pada akhir 1960an hingga awal ‘70an.

Hingga pada kahir tahun 70an, seorang pendidik, mengadvokasikan pemisahan pendidikan dari sekolah-sekolah. Juga mengatakan bahwa orang tua adalah seorang fasilitator dan bukan seorang pengajar dari proses belajar mandiri seorang anak.

Miyai menggaris bawahi alasan-alasan yang berbeda di antara mereka yang memilih homeschooling, seperti karena adanya suatu penyakit yang diderita sehingga tidak memungkinkan si anak untuk sekolah, seringnya si anak membolos sekolah, takut dengan bullying(ditekan) oleh para senior, tidaknya merasa nyaman dengan pendidikan yang menitikberatkan pada bidang akademik saja, agama, menolak sifat sistem pendidikan sekolah moderen yang distandardisasi dan berbasis kendali, tidak percaya pada norma-norma, terutama nilai moral, yang dipaksakan sekolah umum kepada para siswa, hingga keselamatan fisik.

Namun pada akhirnya, ras Afrika dan Amerika yang aktif dalam kegiatan homeschooling ini mulai memperjuangkan hak-hak homeschooling karena prihatin dengan gagalnya sekolah-sekolah yang ada menangani kesenjangan rasial dalam prestasi akademik dan kebutuhan melestarikan kebudayaan mereka, homeschooling menjadi sesuatu yang legal di seluruh Amerika Serikat menjelang tahun 1993, papar Miyai.

“Di Dunia, pendekatan pada pendidikan rumah bervariasi dari tiap negara, tergantung pada apakah Negara tersebut memandang sekolah sebagai wajib atau tidak,” kata Yoshiyuki Nagata, seorang professor di University of Sacred Heart. Ia telah melakukan banyak riset terhadap berbagai macam pendidikan. Termasuk pendidikan rumah atau home schooling.

Namun, dengan peluncuran PISA atau Program Penilaian Pelajar Internasional, banyak Negara yang merujuk pada sekolah guna meningkatkan literasi di antara warga negaranya, kata Nagata lagi.
“Selain dari itu, banyak Negara yang ‘menderita’ dengan adanya ‘kejutan PISA’ itu. Seluruhnya jadi kalang kabut untuk menutupi atau mengatasi hasil buruk negaranya” tutur Nagata. “Dalam artian itu, lebih banyak perhatian diberikan pada pendidikan berbasis sekolah.

Namun pada saat yang sama, definisi tentang kemampuan akademik juga semakin beragam. Pendidikan alternatif bisa jadi lebih baik dalam menolong anak-anak memperoleh keterampilan menyelesaikan masalah, wawasan, dan kebijaksanaan.”

Memang demikian, seperti yang didemonstrasikan para remaja Inggris yang dididik di rumah, saat turut serta dalam kompetisi robotik di Tokyo, anak-anak yang dididik di rumah sering kali merupakan para pelajar yang maju di bidang-bidang tertentu, karena mereka tidak dipaksa untuk belajar mata pelajaran pokok.

Selain dari itu, Menurut laporan tahun 2002 oleh Paula Rothermel dari Universitas Durham, Inggris, yang menilai perkembangan psikososial dan akademik peserta homeschooling usia 11 dan lebih muda, anak-anak yang dididik di rumah itu ditemukan lebih matang secara sosial dan berprestasi akademik lebih baik daripada anak-anak yang dididik di sekolah.

Di Jepang, di mana kehadiran di sekolah adalah wajib, pendidikan rumah bukan pilihan yang popular. Bahkan banyak orang tua yang tidak tahu dengan adanya gagasan mendidik anak di luar sekolah itu ada, kata Kyoko Aizawa, pendiri Otherwise Japan, sebuah kelompok pendukung pendidikan rumah, dengan memberikan catatan bahwa banyak anak-anak dan keluarga yang melaksanakan pendidikan rumah melakukannya dengan rahasia, dan kerap kali menerima diskriminasi dari masyarakat tempat tinggal mereka.

Tetapi dengan begitu banyak masalah di sekolah-sekolah Jepang, baik sekolah maupun orang tua selayaknya berpikir lebih keras tentang cara-cara saling menolong sehingga semua anak dapat memiliki akses pada pendidikan, kendati di mana pun tempat mereka belajar atau apakah mereka mengikuti kurikulum pemerintah ataupun tidak, kata Aizawa. “Pendidikan rumah bukan tentang menghapuskan atau pun menjelek-jelekkan sekolah, juga bukan mengunci anak- anak di dalam rumah dan membuat mereka mengerjakan soal-soal dari pendidikan jarak jauh,” kata Aizawa.
“Pendidikan rumah adalah tentang mengakar pada masyarakat, dan memberikan bantuan bersifat mendidik kepada anak-anak pada setiap kesempatan sedapat mungkin.”

dan di http://www.japaninc.com/article.php?articleID=891 , ada contoh sebuah keluarga yang tahu mengenai homeschooling dan membagikannya untuk kita.

dikutip dari:
missunita.co.cc
http://homeschool.ne.jp/homeschool/
http://www.tokyo-yagaku.jp/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s